Translate

Minggu, 13 Januari 2013

TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA


RANGKUMAN 1. Pengertian beberapa teori tentang perkembangan manusia 2. Kesamaan dan perbedaan 3. Hubungan beberapa teori tesebut 4. Empirisme,nativisme, naturalism dan konvergensi dan pandangan teoritis pendidikan 1. PEMBAHASAN TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA Perkembangan dapat diartikan sebagai The Progressive and contiuous change in the organis from birth to death (suatu perubahan yang progresif dan kontinyu dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati). Perkembangan juga dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation)yang berlangsung secara sistematis (saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme dan merupakan satu kesatuan yang utuh), progresif (bersifat maju, meningkat dan mendalam baiik secara kuantitatif maupun kualitatif) dan berkesinambungan (secara beraturan, berurutan, bukan secara kebetulan)menyangkut fisik maupun psikis. Untuk lebih memahami berbagai hal mengenai perkembangan dewasa ini, ada 4 teori atau pendekatan : 1. Pendekatan perkembangan kognitif Perkembangan kognitif (intelektual) sebenarnya merupakan perkembangan pikiran Pendekatan ini mempunyai asumsi bahwa kemampuan kognitif merupakan suatu yang sangat fundamental yang membimbing tingkah laku individu. Dalam pendekatan ini ada 3 buah model, yaitu : a) Model kognitif plaget, dengan asumsi bahwa perkembangan manusia dapat digambarkan dalam konsep fungsidengan struktur. Konsep fungsi merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang untuk mengorganisasikan pengetahuan kedalam struktur kognisi, supaya dapat beradaptasi dengan lingkungan. b) Model pemrosesan Informasi, yang merumuskan bahwa kognitif manusia sebagai suatu system, terdiri dari input berupa rangsangan yang masuk kedalam reseptor. Proses adalah pekerjaan otak yang mentransformasikan informasi dalam berbagai cara, dan output berbentuk tingkah laku. c) Model kognisi Sosial, yang menekankan pengaruh pengalaman terhadap perkembangan kognitif. 2. Pendekatan belajar atau lingkungan, Pendekatan ini mempunyai asumsi bahwa tingkah laku individu diperoleh melalui pengkondisian dan prinsip-prinsip dasar. 3. Pendekatan Etologi Pendekatan ini merupakan studi perkembangan dari perspektif evolusioner yang didasarkan pada prinsip-prinsip evolusi yang diajukan oleh charles Darwin, dengan merujuk kepada asal usul biologis tentang tingkah laku sosial. 4. Pendekatan Imam Al-Ghazali Pendapatnya bahwa individu dilahirkan dalam membawa fitrah yang sehat dan seimbang, yang selanjutnya kedua orang tua dan lingkungan yang memberikan pendidikan. Sedangkan pendapat para ahli yang lain mengatakan, Teori Perkembangan Manusia itu ada 4 teori, yaitu ; 1. Teori Empirisme Teori ini dipelopori oleh Jhon Locke. Teori ini memenadang bahwa perkembangan individu dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan mulai dari lahir hingga dewasa. Teori ini memandang bahwa pengalaman adalah termasuk pendidikan dan pergaulan. Penjelasan teori ini adalah manusia pada dasarnya adalah merupakan kertas putih yang belum ada warna dan tulisannya akan menjadikan apa nantinya manusia itu, tergantung pada apa yang akan dituliska nantinya 2. Teori Nativisme Pelopor teori ini adalah Athur Schopenhauer. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh nativis atau faktor-faktor bawaan manusia sejak dilahirkan. Teori ini menegaskan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mempengaruhi dan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Faktor lingkungan dan lingkungan diabaikan dan dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat-sifat manusia tak bisa diubah karena telah ditentukan oleh sifat-sifat turunannya. Apabila keturunan baik, maka akan baik. Apabila dari keturunan jahat, maka akan menjadi jahat juga. Jadi sifat manusia bersifat permanen dan tidak bisa dirubah. Teori ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan golongan manusia yang kebetulan memiliki keturunan yang tidak baik. 3. Teori Naturalisme Sebenarnya teori Nativisme dan Naturalisme sama manusia itu semuanya mempunyai pembawaan yang baik.Pelopor teori ini adalah J.J Rosseau Ia berpedapat dalam bukunya Emile: bahwa “Semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari tangan sang pencipta, tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia. Aliran ini disebut juga aliran negativisme, karena pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik dengan sendirinya atau diserahkan kembali kelingkungannya (alam). Dengan kata lain, anak tidak memerlukan pendidikan tetapi yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik terhadap anak didiknya adalah menyerahkannya ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak melalui proses kegiatan pendidikan itu 4 . Teori Konvergensi Teori ini yang mempelopori adalah William Stern. Teori ini merupakan gabungan antara teori Nativisme dengan teori Empirisme. Teori ini menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam perkembangan manusia. Hal ini dibuktikan dengan eksperimen terhadap dua orang anak kembar. Anak kembar itu memiliki keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dengan lingkungan yang berbeda, anak tersebut ternyata memiliki sifat yang beda pula. Maka dari sinilah teori ini menyatakan bahwa sifat keturunan atau pembawaan bukanlah faktor utama yang menentukan perkembangan individu, akan tetapi juga harus didorong dengan faktor lingkungan. 2. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN 1. Teori empirisme (tabularasa) seorang anak dilahirkan seperti kertas putih mau ditulis apa nantinya terserah tergantung lingkungannya, orang tuanya /pendidiknya. keturunan tidak ada pengaruhnya sama sekali ini juga berat sebelah memiliki kekurangan, kurang bisa diterima 2. Aliran Nativisme Perkembangan seorang anak ditentukan oleh bawaannya. Tergantung gennya /keturunannya, pendidikan tidak ada pengaruhnya ini juga berat sebelah 3. Aliran Naturalisme (JJ Rousseu)Anak itu lahir sesuai dengan alamnya sendiri tidak butuh terhadap pendidikan. Gennya tidak berpengaruh begitupun pendidikan karena dari sananya sudah diciptakan baik, ini sama sekali tidak bisa diterima karena sangat ekslusif sekali menjadi orang yang jauh dari keramean, juga tidak butuh pendidikan, jadi aliran Nativisme dan Naturalisme sama –sama tidak butuh Pendidikan, namun naturalisme lebih ekstrim dari pada nativisme. 4. Teori konvergensi Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas 1 dan 2 yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan . Teori empirisme, nativisme,naturalisme memiliki kekurangan dan mayoritas tidak bisa diterima dimasyarakat. Sedangkan Teori konvergensi ini sejalan dengan aliran pendidikan islam dan mayoritas diterima dan sejalan dengan Al-Qur`an dan Hadits. 3. HUBUNGAN BEBERAPA TEORI DENGAN KONSEP ISLAM Teori kovergensi merupakan gabungan antara teori empirisme dan nativisme antara pembawaan dan pendidikan harus sejalan , dan Islam mengajarkan kepada kita Rasulullah bersabda “ Setiap Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tergantung orang tuanyalah yang akan menjadikan dia menjadi yahudi,nasrani atau majusi ( H.R. Bukhari ) • Allah Berfirman: fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS Ar Rum [30]:30) Rasulullah juga mengajarkan kepada kita kalau mau memiliki keturunan yang baik Rasulullah bersabda: Nikahilah perempuan itu karena kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan karena agamanya dan pilih yang demikian itu karena agamanya supaya kamu beruntung (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466) 4. PANDANGAN TEORITIS TENTANG PENDIDIKAN Ketika aliran-aliran pendidikan, yakni nativisme,naturalisme,empirisme dan konvergensi, dikaitkan dengan teori belajar mengajar kelihatan bahwa kedua aliran yang telah disebutkan (nativisme-empirisme) mempunyai kelemahan. Adapun kelemahan yang dimaksudkan adalah sifatnya yang ekslusif dengan cirinya ekstrim berat sebelah. Sedangkan aliran yang terakhir (konvergensi) pada umumunya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang seorang peserta didik dalam kegiatan belajarnya. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu. Keberhasilan teori belajar mengajar jika dikaitkan dengan aliran-aliran dalam pendidikan, diketahui beberapa rumusan yang berbeda antara aliran yang satu dengan aliran lainnya. Menurut aliran nativisme bahwa seorang peserta tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan, sedangkan menurut aliran empirisme bahwa justru lingkungan yang mempengaruhi peserta didik tersebut. Selanjutnya menurut aliran konvergensi bahwa antara lingkungan dan bakat pada peserta didik yang terbawa sejak lahir saling memengaruhi. Al-Qur’an sebagai acuan dasar pendidikan Islam dalam menerangkan teori belajar mengajar telah memberikan konsep terhadap pemikiran yang terdapat aliran nativisme, empirisme dan konvergensi. Dalam hal ini, al-Qur’an menegaskan bahwa pembawaan seorang anak (peserta didik) sejak lahirnya disebut fitrah, dan fitrah ini adalah dasar keagamaan yang dimiliki oleh setiap orang. Fitrah menurut al-Qur’an di samping dapat menerima pengaruh dari dalam (keturunan) juga dapat menerima pengaruh dari luar (lingkungan). Untuk mengembangkan fitrah ini, maka pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting peranannya. a. Teori empirisme (tabularasa) seorang anak dilahirkan seperti kertas putih mau ditulis apa nantinya terserah tergantung lingkungannya orang tuanya /pendidiknya. Gen tidak ada pengaruhnya sama sekali b. Aliran Nativisme Perkembangan seorang anak ditentukan oleh bawaannya. Tergantung gennya /keturunannya, pendidikan tidak ada pengaruhnya c. Aliran Naturalisme (JJ Rousseu)Anak itu lahir sesuai dengan alamnya sendiri tidak butuh terhadap pendidikan. Gennya tidak berpengaruh begitupun pendidikan karena dari sananya sudah diciptakan baik d. Teori konvergensi Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas 1 dan 2 yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan Suatu artikel makalah tentang perkembangan manusia yang terdapat dalam internet yang berjudul MERCUSUAR QALBU mengemukakan bahwa salah satu teori yang mengagumkan dan mudah dipahami dalam pembahasan tentang psikologi perkembangan adalah teori Erik Homburger Erikson. Erikson mengembangkan dua filosofi dasar yang berkenaan dengan perkembangan, yaitu : • Dunia bertambah besar seiring dengan diri kita • Kegagalan bersifat kumulatif Kedua dasar filosofi inilah yang membentuk teorinya yang terkenal itu. Ia hendak mengatakan bahwa dunia semakin besar seiring dengan perkembangan karena kapasitas persepsi dan kognisi manusia juga mengalami perubahan. Di sisi lain, dalam pengertian Erikson, kegagalan yang terjadi pada sebuah stage perkembangan akan menghambat sebuah proses perkembangan ke stage berikutnya. Kegagalan ini tidak lantas hilang dengan sendirinya, bahkan terakumulasi dalam stage perkembangan berikutnya. Dari penelitiannya, Erikson yang menganut Freudian (karena menggunakan konsep ego) ini melihat bahwa jalur perkembangan merupakan interaksi antara tubuh ( pemrogram biologi genetika ), pikiran (aspek psikologis), dan pengaruh budaya. Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan kedalam 8 stage yang merentang sejak kelahiran hingga mati. 1) Tahap Bayi (infancy) : sejak lahir hingga usia 18 bulan Hasil perkembangan ego : trust vs mistrust (Percya Vs Tidak Percaya) Kekuatan dasarnya adalah : dorongan dan harapan. Periode ini juga sering disebur dengan tahapann sensorik oral, karena bayi akan memasukkan segala sesuatu kedalam mulutnya, dia akan meniru apa yang dilakukan oleh ibunya. Islam mengatakan bahwa sosok ibu atau pengganti ibu adalah madrasah pertama melalui kasih sayangnya. Firman Allah, yang artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” Q.S.al-Baqarah :233 2) Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood) : 18 bulan hingga 3 tahun. Hasil perkembangan ego : autonomy vs shame (otonomi vs rasa malu) Kekuatan dasarnya adalah pengendalian diri, keberanian, dan kemauan. Selama tahapan ini anak-anak mempelajari kemampuan diri sendiri, tidak hanya makan, minum, berjalan, bicara. Akan tetapi mempelajari perkembangan motorik yang lebih halus. Dan pada periode ini anak-anak akan mengucapkan TIDAK, sebagai penolakan atas suruhan orang lain atau sering disebut otonomi. Pada masa ini pula anak-anak akan merasa dan timbul rasa malu ketika apa yang ia kerjakan mengalami kegagalan. 3) Tahap Usia Bermain ( Play Age) : 3 tahun hingga 5 tahun. Hasil perkembangan ego : Intiative vs guilt ( inisiatif vs rasa bersalah ) Kekuatan dasarnya adalah Tujuan. Pada periode ini individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa disekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki akan bermain kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan akan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering diucapkan anak, yaitu : KENAPA? Anak-anak diusia ini disebut dengan golongan golden age, karena memiliki ingatan yang luar biasa, apapun memory yang didapatkan di kurun usia ini akan menjadi kenangan seumur hidup. Karena itu biarlah mereka selalu mengenang orang tuanya sebagai ilham bagi perbuatan penuh kebajikan dan amal shaleh di kelak kemudian hari. 4) Tahap Usia Sekolah (School Age) : 6-12 tahun. Hasil perkembangan ego : Industry vs inferiority ( industri vs inferioritas ) Kekuatan dasarnya adalah metode dan kompetensi. Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb.) serta dalam konteks social. Bila individu gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks social, ia akan merasakan ketidakmampuan dirinya dan mersa rendah diri. Sekolah dan lingkungan social merupakan figure yang berperan penting dalam pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal. Imam syafi’I rahimahullah mengatakan dalam syairnya : saudaraku, engkau tidak akanb mendapat ilmu, melainkam dengan enam perkara. Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas : kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan guru, dan waktunya lama. 5) Tahap Remaja (Adolescence) : Usia 12 hingga 18 tahun. Hasil perkembangan ego : Identity vs Role Confusion ( identitas vs kebingungan peran) Kekuatan dasarnya adalah devotion and fidelity (kesetiaan dan ketergantungan) Tugas difase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keluarga asal dan menjadi bagian dari lingkup social yang lebih luas. Hadis nabi SAW : Menyendiri itu lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang sholeh lebih baik daripda menyendiri. Berbincang-bincang yang lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara yang buruk.H.R. Al-Hakim 6) Tahap Dewasa Awal (young Adulthood) : usia 18 hingga 35 tahun. Hasil perkembangan ego : Solidarity vs Isolation ( solidaritas dan Isolasi) Kekuatan dasarnya adalah Affilion and love ( kedekatan dan cinta ) Difase ini , langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa senang dan puas. Akan tetapi kegagalan menjadikan orang mengisolasikan diri, menjauh dari orang lain, bahkan serasa dunia terasa sempit. 7) Tahap Dewasa (Middle Adulthood) : usia 35 hingga 55 tahun atau 65 tahun Hasil perkembangan ego : Generativity Vs Self Absorption or Stagnation. Kekuatan dasarnya adalah production and care (produksi dan perhatian) Tugas penting difase ini adalah mengejawatkan budaya dan meneruskan nilai budaya pada keluarga dengan membentuk karakter anak serta memantapkan lingkungan yang stabil. 8) Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood) : usia 55 tahun atau 65 tahun hingga mati. Hasil perkembangan ego : integritas Vs Despair (integritas vs keputus asaan) Kekuatan dasarnya adalah Wisdom atau kebijaksanaan Firman Allah dalam surah Al-Jumu’ah, yang artinya : “sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.Q.S.Al-Jumu’ah : 8 BAB III PENUTUP Kesimpulan Manusia adalah mahluk yang sempurna dan mengalami perubahan dan perkembangan. Diantara teori-teori perkembangan antara lain : a) Teori Nativisme yang dikemukakan oleh Athur Schopenhauer. Teori ini berpendapat bahwa sifat—sifat manusia tergantung dari bawaan sejak lahir atau bawaan dari orang tuanya. b) Teori Empirisme yang dikemukakan oleh Jhon Locke. Teori ini berpendapat bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan atau lingkungan, tidak dari factor turunan orang tuanya. c) Teori Konvergebsi yang dikemukakan oleh William Stem. Teori ini merupakan penggabungan dari teori sebelumnya, yaitu penggabungan dari factor turunan orang tua dan pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Hartati, Netty dkk, Islam dan psikologi, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2004 Yusuf, Syamsul, Psikologi Perkembangan anak dan remaja, Bandung : Remaja rosdakarya, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar